Kamis, 16 Juni 2011

Cintailah Hidup dan Hiduplah dalam Cinta

Doni, anak semata wayang, hidup di keluarga yang serba berkecukupan. Ayahnya seorang pengusaha yang cukup sukses, sedangkan ibunya seorang wanita karier yang sangat sibuk juga. Tak ada yang meragukan bahwa Doni akan mengukuti jejak ayahnya sebagai pengusaha. Hal ini didukung oleh latar belakang keluarga dan pendidikan formal Doni. Ia selalu ditempatkan di sekolahan yang kulitasnya unggul. Sekolah Internasional, demikian orang biasanya menyebut. Dari segi ekonomi Doni juga tidak pernah merasa kekurangan. Mobil dan sopir yang siap sedia setiap waktu mengantarnya. Pembantu yang selalu menyediakan makanannya pada jam makan. Pokoknya semua fasilitas sudah tersedia. Sekilas teman-temannya melihat kehidupan Doni adalah kehidupan yang sempurna.

Tapi ada satu hal kurang dalam diri Doni. Satu hal yang tidak bisa ia dapatkan dari orang lain. Dan ia begitu merindukannya. Cinta orang tua. Itu yang tidak ia dapatkan dan begitu ia rindukan. Dia cemburu melihat teman-temannya bisa bercengkrama dengan orang tua mereka. Doni suka bertanya dalam hatinya, kapan bisa merasakan cinta orang tua, kasih sayang yang nyata dengan belaian bukan dengan harta. Ia ingin berontak tapi tidak tahu harus berontak pada siapa.

Suatu waktu Doni mendengar ayah-ibunya bertengkar. Kedua orang tuanya itu saling menuduh punya selingkuhan. Hati Doni terasa hancur mendengar itu. Ia seakan disia-siakan oleh orang tuanya hanya karena kesenangan sendiri. Doni ingin lari dari semua itu. Jauh dari orang tua yang tidak memperdulikannya. Rasa cinta mereka tidak ditunjukkan dengan perbuatan hanya dengan kata-kata. Doni sadar ternyata rasa sayang tidak bisa digantikan dengn harta.

Karena ingin mendapat ketenangan, Doni mulai mencarinya di luar rumah. Doni merasa hampa kalau sedang berada di rumah .Dia mulai tidak terkontrol karena tidak ada yang memperhatikan. Pergaulannya juga mulai kelewat batas. Dan..... Doni terjerumus narboka. Hingga akhirnya menjadi pecandu berat. Dan yang lebih parah, ia terkena HIV. Akhirnya…. orang tua Doni menyesal, tapi sudah terlambat. Nasi sudah menjadi bubur. Doni sudah tidak bisa mencintai hidupnya lagi dan ini semua disebabkan karena dalam keluarganya tidak pernah hidup rasa cinta.

Saudaraku…. Tulisan diatas hanyalah sebuah ilustrasi untuk mengingatkan bahwa orang bisa mencintai hidupnya kalau ia hidup di keluarga/lingkungan yang penuh cinta.
Sebenarnya hidup kita ini terlalu singkat untuk kita sia-siakan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar