Aku memang bukan ahli politik dan juga bukan orang yang tahu banyak tentang politik. Yang aku tahu negeri ini sedang mengahadapi masalah korupsi yang melibatkan anggota partai politik. Dan pada saat akan dibongkar, eh…. kabur dech. Jadi ingat waktu saya masih anak-anak, kepergok waktu mencuri jambu di kebun orang. Setelah kepergok, berusaha lari sekencang-kencangnya supaya tidak ketangkap sama pemilik kebun. Hahaha… Itu waktu saya anak-anak lho…. Tapi yang kabur sekarang apakah masih anak-anak juga ? (Jawab masing-masing aja yach.)
Sesampainya di rumah, masih dengan suara ngos-ngosan dan jambu di tangan, bapak bertanya “ Kamu habis dari mana ? Koq ngos-ngosan begitu, trus ada jambu juga di tangan. Kamu habis nyolong yach ?” Aku hanya terdiam, gak bisa jawab. Ketangkap basah dech. Akhirnya bapak memaksa saya untuk mengaku dan meminta maaf kepada pemilik kebun. Apapun sanksinya nanti kamu harus kamu terima, demikian bapak aku menambahkan.BERANI BERBUAT HARUS BERANI BERTANGGUNG JAWAB, jangan kabur. Itu intinya yang saya dapat waktu itu.
Berani berbuat berani bertanggungjawab. Pernyataan ini mengajarkan kepada kita bahwa kita harus berani/mau menanggung segala resiko atas perbuatan kita . Ungkapan ini juga mengingatkan kita bahwa segala sesuatu ada resikonya. Ungkapan ini juga mengajarkan kepada kita untuk bertanggung jawab dalam setiap keputusan/tindakan yang diambil dalam kehidupan ini. Karena tanpa berani mengambil resiko, maka kita sulit menjalani kehidupan ini atau mungkin disebut 'pengecut'.
Yah, berani berbuat berani berani bertanggung jawab ? Gampang kah ? Kembali ke pribadi masing-masing. Masih ada dalam ingatan saya sewaktu Presiden perusahaan Tokyo Electric Power Co. (Tepco), Masataka Shimizu, mengundurkan diri dengan dengan tidak hormat karena merasa gagal memimpin perusahaan pada saat krisis. Dia juga mengaku bertanggung jawab atas kerugian yang diderita masyarakat setelah instalasi nuklir Fukushima Dai-ichi meledak. Bagaimana dengan negara kita ? Yah… seperti yang saudara tahu juga, disini pasti cari-cari alasan dan bila perlu menyalahkan situasi atau orang lain.
Dewasa ini, teladan berani berbuat dan berani bertanggung jawab serasa makin pudar. Kompromi dengan hal jahat menjadi salah satu pilihan. Banyak tindakan-tindakan yang salah seakan mendapat pembenaran dengan alasan “ banyak orang melakukan hal yang sama”. Sifat egosentris sudah sangat dominan, sehingga hanya memikirkan kepentingan sendiri. Orang takut berpegang pada kebenaran karena kebenaran sering kali tidak populer.
Saudaraku, rasa tanggung jawab perlu dihidupkan kembali agar setiap orang berbuat sesuatu secara sadar bahwa perbuatannya dapat berpengaruh terhadap orang-orang di sekitarnya. Tanpa tanggung jawab, maka banyak orang yang menderita. Bagaimanakah dengan diri kita? Apakah kita selalu bertanggung jawab atas perbuatan kita di tengah kehidupan yang penuh dengan masalah ini?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar